Thursday, March 20, 2014
Friday, March 14, 2014
9 Penemuan Muslim yang Mengguncang Dunia
9 Penemuan Muslim yang Mengguncang Dunia
Kehidupan modern tak lepas dari penemuan-penemuan ilmuwan
muslim. Proyek 1001 kembali mengingatkan sejarah 1000 tahun warisan muslim yang
terlupakan.
“Ada sebuah lubang dalam ilmu pengetahuan manusia, melompat
dari zaman Renaisans langsung kepada Yunani,” ujar Chairman Yayasan Sains,
Teknologi dan Peradaban Profesor Salim al-Hassani pemimpin 1001 Penemuan.
Saat ini Penemuan 1001 sedang pameran di Museum Sains
London. Hassani mengharapkan pameran tersebut akan menegaskan kembali
kontribusi peradaban non-barat, seperti kerajaan muslim yang suatu waktu pernah
menutupi Spanyol dan Portugis, Italia selatan dan terbentang seluas daratan
China.
Inilah penemuan muslim yang luar biasa:
1. Operasi Bedah
Sekitar tahun 1000, seorang dokter Al Zahrawi
mempublikasikan 1500 halaman ensiklopedia berilustrasi tentang operasi bedah
yang digunakan di Eropa sebagai referensi medis selama lebih dari 500 tahun.
Diantara banyak penemu, Zahrawi yang menggunakan larutan usus kucing menjadi
benang jahitan, sebelum menangani operasi kedua untuk memindahkan jahitan pada
luka. Dia juga yang dilaporkan melakukan operasi caesar dan menciptakan
sepasang alat jepit pembedahan.
2. Kopi
Saat ini warga dunia meminum sajian khas tersebut tetapi,
kopi pertama kali dibuat di Yaman pada sekitar abad ke-9. Pada awalnya kopi
membantu kaum sufi tetap terjaga ibadah larut malam. Kemudian dibawa ke Kairo
oleh sekelompok pelajat yang kemudian kopi disukai oleh seluruh kerajaan. Pada
abad ke-13 kopi menyeberang ke Turki, tetapi baru pada abad ke-16 ketika kacang
mulai direbus di Eropa, kopi dibawa ke Italia oleh pedagang Venesia.
3. Mesin Terbang
Abbas ibn Firnas adalah orang pertama yang mencoba membuat
konstruksi sebuah pesawat terbang dan menerbangkannya. Di abad ke-9 dia
mendesain sebuah perangkat sayap dan secara khusus membentuk layaknya kostum
burung. Dalam percobaannya yang terkenal di Cordoba Spanyol, Firnas terbang
tinggi untuk beberapa saat sebelum kemudian jatuh ke tanah dan mematahkan
tulang belakangnya. Desain yang dibuatnya secara tidak terduga menjadi
inspirasi bagi seniman Italia Leonardo da Vinci ratusan tahun kemudian.
4. Universitas
Pada tahun 859 seorang putri muda bernama Fatima al-Firhi
mendirikan sebuah universitas tingkat pertama di Fez Maroko. Saudara
perempuannya Miriam mendirikan masjid indah secara bersamaan menjadi masjid dan
universitas al-Qarawiyyin dan terus beroperasi selama 1.200 tahun kemudian.
Hassani mengatakan dia berharap orang akan ingat bahwa belajar adalah inti
utama tradisi Islam dan cerita tentang al-Firhi bersaudara akan menginspirasi
wanita muslim di mana pun di dunia.
5. Aljabar
Kata aljabar berasal dari judul kitab matematikawan terkenal
Persia abad ke-9 ‘Kitab al-Jabr Wal-Mugabala’, yang diterjemahkan ke dalam buku
‘The Book of Reasoning and Balancing’. Membangun akar sistem Yunani dan Hindu,
aljabar adalah sistem pemersatu untuk nomor rasional, nomor tidak rasional dan
gelombang magnitudo. Matematikawan lainnya Al-Khwarizmi juga yang pertama kali
memperkenalkan konsep angka menjadi bilangan yang bisa menjadi kekuatan.
6. Optik
“Banyak kemajuan penting dalam studi optik datang dari dunia
muslm,” ujar Hassani. Diantara tahun 1.000 Ibn al-Haitham membuktikan bahwa
manusia melihat obyek dari refleksi cahaya dan masuk ke mata, mengacuhkan teori
Euclid dan Ptolemy bahwa cahaya dihasilkan dari dalam mata sendiri. Fisikawan
hebat muslim lainnya juga menemukan fenomena pengukuran kamera di mana
dijelaskan bagaimana mata gambar dapat terlihat dengan koneksi antara optik dan
otak.
7. Musik
Musisi muslim memiliki dampak signifikan di Eropa. Di antara
banyak instrumen yang hadir ke Eropa melalui timur tengah adalah lute dan
rahab, nenek moyang biola. Skala notasi musik modern juga dikatakan berasal
dari alfabet Arab.
8. Sikat Gigi
Menurut Hassani, Nabi Muhammad SAW mempopulerkan penggunaan
sikat gigi pertama kali pada tahun 600. Menggunakan ranting pohon Miswak, untuk
membersihkan gigi dan menyegarkan napas. Substansi kandungan di dalam Miswak
juga digunakan dalam pasta gigi modern.
9. Engkol
Banyak dasar sistem otomatis modern pertama kali berasal
dari dunia muslim, termasuk pemutar yang menghubungkan sistem. Dengan
mengkonversi gerakan memutar dengan gerakan lurus, pemutar memungkinankan obyek
berat terangkat relatif lebih mudah. Teknologi tersebut ditemukan oleh
Al-jazari pada abad ke-12, kemudian digunakan dalam penggunaan sepeda hingga
kini.Wednesday, March 12, 2014
Berjalan Membelah Dunia
Tujuh tahun berkeliling dunia, menapaki jejak leluhur pengembara kita.
OLEH PAUL SALOPEK
FOTO OLEH JOHN STANMEYER
FOTO OLEH JOHN STANMEYER
Keluar dari nirwana
Berjalan adalah terjun ke depan.
Setiap langkah adalah rem darurat yang menahan agar kami tidak terjerembap. Dengan cara ini, berjalan menjadi wujud keimanan. Kami melakukannya setiap hari: mukjizat dua ketukan—mengangkat dan menapakkan kaki, bertahan sejenak, lalu melepaskan diri. Selama tujuh tahun mendatang, saya akan terjun melintasi dunia.
Saya tengah berada dalam sebuah perjalanan. Memburu sebuah gagasan, kisah, angan-angan, mungkin legenda. Mengejar-ngejar hantu. Berawal dari tempat asal manusia, yakni Great Rift Valley—Lembah Celah Besar—di Afrika Timur, saya berjalan kaki mengikuti jejak para leluhur yang pertama kali menjelajahi Bumi sekitar 60.000 tahun silam. Sejauh ini, inilah perjalanan terbesar kami. Bukan karena perjalanan ini menunjukkan bagaimana kita menguasai planet ini. Tidak. Melainkan karena Homo sapiens awal yang pertama kalinya berkelana ke luar benua asal—pelopor kaum nomaden yang jumlah totalnya hanya sekitar dua ratus orang. Mereka juga menganugerahkan kepada kita sifat-sifat terhalus yang kini diasosiasikan dengan ciri-ciri manusia yang utuh: bahasa yang kompleks, cara berpikir abstrak, dorongan untuk berkesenian, kecemerlangan dalam inovasi teknologi, dan keanekaragaman ras yang ada saat ini.
Kita hanya memiliki sekelumit pengetahuan tentang mereka. Mereka menyeberangi selat bernama Babul Mandeb—“gerbang nestapa” yang memisahkan Benua Afrika dengan daratan Arabia—kemudian jumlah mereka meledak, hanya dalam 2.500 generasi, sekejap mata menurut hitungan geologi, dan merambah bagian-bagian paling terpencil planet ini.
Ribuan tahun berlalu, saya mengikuti mereka.
Memanfaatkan bukti fosil dan ilmu “genografi”—ilmu yang menganalisis DNA manusia modern untuk melacak diaspora manusia purba—saya akan berjalan kaki ke utara dari Afrika menuju Timur Tengah. Dari sana, rute antik saya mengarah ke timur melintasi dataran batu luas dari Asia hingga Cina, kemudian ke utara lagi menuju hamparan bayang-bayang biru mint Siberia. Dari Rusia, saya akan menumpang kapal menuju Alaska dan beringsut ke pesisir barat Dunia Baru untuk mencapai Tierra del Fuego, Cile, yang terkikis angin. Inilah daratan terujung yang berhasil dirambah oleh spesies kita. Saya akan berjalan kaki sejauh 33.000 kilometer.
Proyek ini, yang saya namai Out of Eden Walk (Keluar dari Nirwana), dilandasi oleh banyak alasan: untuk mempelajari kembali kontur planet kita dengan kecepatan langkah kaki manusia, yakni lima kilometer per jam. Untuk memperlambat laju. Untuk merenung. Untuk menulis. Saya akan berjalan, sebagaimana semua orang, untuk melihat apa yang ada di depan. Saya akan berjalan untuk mengenang.
Jalur-jalur kasar yang membelah gurun di Etiopia barangkali merupakan peninggalan tertua manusia di muka bumi. Orang-orang masih menggunakannya: mereka yang kelaparan, yang miskin, yang didera cuaca, para pria dan wanita yang dengan wajah hampa melarikan diri dari perang.
Hampir semiliar manusia melakukan pergerakan melintasi Bumi saat ini. Kita tengah menjalani migrasi massal terbesar sepanjang sejarah spesies kita. Di Kota Jibouti, pada malam hari para migran Afrika berdiri di antara tumpukan sampah di pinggir pantai. Mereka melambai-lambaikan telepon seluler, berusaha menangkap bocoran sinyal dari Somalia. Saya mendengar gumaman mereka: Oslo, Melbourne, Minnesota. Setelah 600 abad berlalu, kita masih mencari panduan, bahkan bantuan, dari mereka yang dahulu menyusuri jalan yang sama.
Berjalan adalah terjun ke depan.
Setiap langkah adalah rem darurat yang menahan agar kami tidak terjerembap. Dengan cara ini, berjalan menjadi wujud keimanan. Kami melakukannya setiap hari: mukjizat dua ketukan—mengangkat dan menapakkan kaki, bertahan sejenak, lalu melepaskan diri. Selama tujuh tahun mendatang, saya akan terjun melintasi dunia.
Saya tengah berada dalam sebuah perjalanan. Memburu sebuah gagasan, kisah, angan-angan, mungkin legenda. Mengejar-ngejar hantu. Berawal dari tempat asal manusia, yakni Great Rift Valley—Lembah Celah Besar—di Afrika Timur, saya berjalan kaki mengikuti jejak para leluhur yang pertama kali menjelajahi Bumi sekitar 60.000 tahun silam. Sejauh ini, inilah perjalanan terbesar kami. Bukan karena perjalanan ini menunjukkan bagaimana kita menguasai planet ini. Tidak. Melainkan karena Homo sapiens awal yang pertama kalinya berkelana ke luar benua asal—pelopor kaum nomaden yang jumlah totalnya hanya sekitar dua ratus orang. Mereka juga menganugerahkan kepada kita sifat-sifat terhalus yang kini diasosiasikan dengan ciri-ciri manusia yang utuh: bahasa yang kompleks, cara berpikir abstrak, dorongan untuk berkesenian, kecemerlangan dalam inovasi teknologi, dan keanekaragaman ras yang ada saat ini.
Kita hanya memiliki sekelumit pengetahuan tentang mereka. Mereka menyeberangi selat bernama Babul Mandeb—“gerbang nestapa” yang memisahkan Benua Afrika dengan daratan Arabia—kemudian jumlah mereka meledak, hanya dalam 2.500 generasi, sekejap mata menurut hitungan geologi, dan merambah bagian-bagian paling terpencil planet ini.
Ribuan tahun berlalu, saya mengikuti mereka.
Memanfaatkan bukti fosil dan ilmu “genografi”—ilmu yang menganalisis DNA manusia modern untuk melacak diaspora manusia purba—saya akan berjalan kaki ke utara dari Afrika menuju Timur Tengah. Dari sana, rute antik saya mengarah ke timur melintasi dataran batu luas dari Asia hingga Cina, kemudian ke utara lagi menuju hamparan bayang-bayang biru mint Siberia. Dari Rusia, saya akan menumpang kapal menuju Alaska dan beringsut ke pesisir barat Dunia Baru untuk mencapai Tierra del Fuego, Cile, yang terkikis angin. Inilah daratan terujung yang berhasil dirambah oleh spesies kita. Saya akan berjalan kaki sejauh 33.000 kilometer.
Proyek ini, yang saya namai Out of Eden Walk (Keluar dari Nirwana), dilandasi oleh banyak alasan: untuk mempelajari kembali kontur planet kita dengan kecepatan langkah kaki manusia, yakni lima kilometer per jam. Untuk memperlambat laju. Untuk merenung. Untuk menulis. Saya akan berjalan, sebagaimana semua orang, untuk melihat apa yang ada di depan. Saya akan berjalan untuk mengenang.
Jalur-jalur kasar yang membelah gurun di Etiopia barangkali merupakan peninggalan tertua manusia di muka bumi. Orang-orang masih menggunakannya: mereka yang kelaparan, yang miskin, yang didera cuaca, para pria dan wanita yang dengan wajah hampa melarikan diri dari perang.
Hampir semiliar manusia melakukan pergerakan melintasi Bumi saat ini. Kita tengah menjalani migrasi massal terbesar sepanjang sejarah spesies kita. Di Kota Jibouti, pada malam hari para migran Afrika berdiri di antara tumpukan sampah di pinggir pantai. Mereka melambai-lambaikan telepon seluler, berusaha menangkap bocoran sinyal dari Somalia. Saya mendengar gumaman mereka: Oslo, Melbourne, Minnesota. Setelah 600 abad berlalu, kita masih mencari panduan, bahkan bantuan, dari mereka yang dahulu menyusuri jalan yang sama.
Herto Bouri, Etiopia
“Ke mana Anda akan berjalan?” tanya seorang penggembala Afar.
“Utara. Ke Jibouti.” (Kami tidak mengatakan Tierra del Fuego. Tempat itu terlampau jauh—percuma jika disebutkan.)
“Anda gila, ya? Atau sakit?”
Sebagai jawaban, Mohamed Elema Hessan—yang berpenampilan menawan, pemandu dan pelindung saya selama menembus Segitiga Afar nan meranggas—membungkuk dan tergelak. Dialah yang mengendalikan mikro-karavan kami: dua ekor unta kerempeng.
Proyek ini, bagi Elema, adalah sebuah lelucon menggelikan—sebuah anekdot kosmik. Berjalan kaki selama tujuh tahun! Lintas benua! Dia menikmati kekonyolannya. Ini wajar. Terutama akibat kebodohan yang terjadi tatkala kami berangkat tadi.
Saya terbangun sebelum fajar dan melihat salju: tebal, pekat, mencekik, membutakan. Ternyata itu debu. Ratusan hewan di kampung Elema menghasilkan awan debu selembut bedak bayi. Kambing, domba, unta—sayangnya, bukan unta kami.
Unta-unta pengangkut perbekalan yang telah saya sewa berbulan-bulan sebelumnya (persiapan kunci dalam sebuah proyek yang menghabiskan beribu-ribu jam perencanaan) tidak terlihat di mana pun. Pawang mereka, dua orang nomaden bernama Mohamed Aidahis dan Kader Yarri, juga tiada. Mereka tidak pernah muncul.
Kami pun hanya bisa duduk di tengah kepulan debu, menunggu. Matahari kian tinggi. Udara semakin panas. Lalat-lalat mengerumuni kami. Di timur, di seberang Celah, perbatasan pertama kami, Jibouti, menjauh dua sentimeter setiap tahun—secepat Arabia menjauh dari Afrika.
Anda gila, ya? Atau sakit? Ya? Tidak? Mungkin?
Segitiga Afar di timur laut Etiopia dihindari orang karena keadaannya sekering bulan. Suhunya 49o C. Pantulan sinar dari lapisan garam di dasar kubangan kering begitu cemerlang hingga membakar mata. Namun hari ini hujan. Saya dan Elema tidak membawa tenda kedap air. Kami punya sehelai bendera Etiopia, yang oleh Elema dipakai menyelimuti diri selama dia berjalan. Setelah berhasil menemukan dua ekor unta untuk disewa, Kami tertatih-tatih melewati pepohonan akasia yang cokelat tersiram air hujan hangat.
Sekitar 20 kilometer kemudian, Elema meminta izin untuk pulang. Dia lupa membawa sepatu jalan Amerika barunya. Dan senternya. Dan topinya—dan ponselnya. Dari kamp pertama kami, dia mencari tumpangan ke desanya untuk mengambil benda-benda penting itu. Lalu dia berlari menyusul saya.
Mustahil untuk mengingat setiap detail dalam perjalanan berskala sebesar ini. Saya sendiri melupakan banyak hal—kantong nilon, misalnya. Akibatnya saya harus memulai perjalanan keluar dari Afrika ini dengan bagasi pesawat, terikat di punggung unta.
Para ilmuwan di proyek riset Middle Awash mengundang kami untuk memulai perjalanan di Herto Bouri, kilometer nol simbolik kami di Celah Etiopia. Di sinilah salah satu area dengan kandungan fosil tulang manusia terkaya di dunia. Di situs ternama ini, sebagian fosil manusia tertua ditemukan. Homo sapiens idaltu. Punah 160.000 tahun silam. Leluhur bertulang besar—versi awal kita.
Para peneliti Middle Awash Project, menemukan sejumlah besar fosil hominin terpenting di zaman kita di Etiopia, termasuk Ardipithecus ramidus, makhluk berkaki dua yang hidup 4,4 juta tahun silam. Pemandu Afar saya yang tingkahnya sulit ditebak, Elema, adalah pemburu fosil kawakan mereka.
Dibesarkan dalam kebudayaan nomaden yang tersohor akan pejuang-pejuang tangguhnya, Elema menguasai tiga bahasa—Afar, Amharic, dan Inggris kasar beraksen kental yang dipelajarinya dari para ilmuwan Middle Awash. Dia berkali-kali mengucapkan “Wow” dan “Crazy, man” dan “Jeezus” saat menunjukkan lapisan tanah kunci di Celah. Dia seorang balabat—ketua adat—klan Bouri-Modaitu dari Afar. Di ponselnya tersimpan nomor para tokoh penting Etiopia dan akademikus Prancis. Dia adalah fenomena.
Kami tengah berkemah di Aduma ketika para ilmuwan Middle Awash menemui kami. Mereka datang untuk menunjukkan sebuah situs Zaman Batu Tengah.“Peralatan ini masih agak kuno untuk orang-orang yang Anda ikuti,” ujar Yonatan Sahle, peneliti Etiopia. “Tetapi teknologi mereka pada dasarnya sudah sama majunya. Mereka membuat senjata lempar yang memungkinkan mereka menaklukkan para hominin lain di luar Afrika.”
“Ke mana Anda akan berjalan?” tanya seorang penggembala Afar.
“Utara. Ke Jibouti.” (Kami tidak mengatakan Tierra del Fuego. Tempat itu terlampau jauh—percuma jika disebutkan.)
“Anda gila, ya? Atau sakit?”
Sebagai jawaban, Mohamed Elema Hessan—yang berpenampilan menawan, pemandu dan pelindung saya selama menembus Segitiga Afar nan meranggas—membungkuk dan tergelak. Dialah yang mengendalikan mikro-karavan kami: dua ekor unta kerempeng.
Proyek ini, bagi Elema, adalah sebuah lelucon menggelikan—sebuah anekdot kosmik. Berjalan kaki selama tujuh tahun! Lintas benua! Dia menikmati kekonyolannya. Ini wajar. Terutama akibat kebodohan yang terjadi tatkala kami berangkat tadi.
Saya terbangun sebelum fajar dan melihat salju: tebal, pekat, mencekik, membutakan. Ternyata itu debu. Ratusan hewan di kampung Elema menghasilkan awan debu selembut bedak bayi. Kambing, domba, unta—sayangnya, bukan unta kami.
Unta-unta pengangkut perbekalan yang telah saya sewa berbulan-bulan sebelumnya (persiapan kunci dalam sebuah proyek yang menghabiskan beribu-ribu jam perencanaan) tidak terlihat di mana pun. Pawang mereka, dua orang nomaden bernama Mohamed Aidahis dan Kader Yarri, juga tiada. Mereka tidak pernah muncul.
Kami pun hanya bisa duduk di tengah kepulan debu, menunggu. Matahari kian tinggi. Udara semakin panas. Lalat-lalat mengerumuni kami. Di timur, di seberang Celah, perbatasan pertama kami, Jibouti, menjauh dua sentimeter setiap tahun—secepat Arabia menjauh dari Afrika.
Anda gila, ya? Atau sakit? Ya? Tidak? Mungkin?
Segitiga Afar di timur laut Etiopia dihindari orang karena keadaannya sekering bulan. Suhunya 49o C. Pantulan sinar dari lapisan garam di dasar kubangan kering begitu cemerlang hingga membakar mata. Namun hari ini hujan. Saya dan Elema tidak membawa tenda kedap air. Kami punya sehelai bendera Etiopia, yang oleh Elema dipakai menyelimuti diri selama dia berjalan. Setelah berhasil menemukan dua ekor unta untuk disewa, Kami tertatih-tatih melewati pepohonan akasia yang cokelat tersiram air hujan hangat.
Sekitar 20 kilometer kemudian, Elema meminta izin untuk pulang. Dia lupa membawa sepatu jalan Amerika barunya. Dan senternya. Dan topinya—dan ponselnya. Dari kamp pertama kami, dia mencari tumpangan ke desanya untuk mengambil benda-benda penting itu. Lalu dia berlari menyusul saya.
Mustahil untuk mengingat setiap detail dalam perjalanan berskala sebesar ini. Saya sendiri melupakan banyak hal—kantong nilon, misalnya. Akibatnya saya harus memulai perjalanan keluar dari Afrika ini dengan bagasi pesawat, terikat di punggung unta.
Para ilmuwan di proyek riset Middle Awash mengundang kami untuk memulai perjalanan di Herto Bouri, kilometer nol simbolik kami di Celah Etiopia. Di sinilah salah satu area dengan kandungan fosil tulang manusia terkaya di dunia. Di situs ternama ini, sebagian fosil manusia tertua ditemukan. Homo sapiens idaltu. Punah 160.000 tahun silam. Leluhur bertulang besar—versi awal kita.
Para peneliti Middle Awash Project, menemukan sejumlah besar fosil hominin terpenting di zaman kita di Etiopia, termasuk Ardipithecus ramidus, makhluk berkaki dua yang hidup 4,4 juta tahun silam. Pemandu Afar saya yang tingkahnya sulit ditebak, Elema, adalah pemburu fosil kawakan mereka.
Dibesarkan dalam kebudayaan nomaden yang tersohor akan pejuang-pejuang tangguhnya, Elema menguasai tiga bahasa—Afar, Amharic, dan Inggris kasar beraksen kental yang dipelajarinya dari para ilmuwan Middle Awash. Dia berkali-kali mengucapkan “Wow” dan “Crazy, man” dan “Jeezus” saat menunjukkan lapisan tanah kunci di Celah. Dia seorang balabat—ketua adat—klan Bouri-Modaitu dari Afar. Di ponselnya tersimpan nomor para tokoh penting Etiopia dan akademikus Prancis. Dia adalah fenomena.
Kami tengah berkemah di Aduma ketika para ilmuwan Middle Awash menemui kami. Mereka datang untuk menunjukkan sebuah situs Zaman Batu Tengah.“Peralatan ini masih agak kuno untuk orang-orang yang Anda ikuti,” ujar Yonatan Sahle, peneliti Etiopia. “Tetapi teknologi mereka pada dasarnya sudah sama majunya. Mereka membuat senjata lempar yang memungkinkan mereka menaklukkan para hominin lain di luar Afrika.”
Dalfagi, Etiopia
Di Segitiga Afar, Etiopia, harga air semahal emas. Inilah salah satu gurun terpanas dan terkering di dunia. Selama tiga hari berjalan kaki di dekat tebing curam di bagian barat Celah, saya dan Elema hanya menemukan satu mukjizat berwujud kubangan air hujan berlumpur untuk menuntaskan dahaga unta-unta kami. Namun, keesokan harinya, tanpa dinyana kami menemukan sebuah oasis elektron, Desa Dalifagi.
Hamparan luas padang garam yang menyelimuti perbatasan Etiopia, Jibouti, dan Eritrea, baru dipetakan pada 1920-an. Selama berabad-abad, para penggembala Afar perkasa yang menguasai wilayah ini menolak segala bentuk hubungan dengan dunia luar.
Namun, saat ini, selain menyandang persenjataan berupa belati tajam dan senapan Kalashnikov, mereka juga membawa ponsel.
Mereka menyambut peranti komunikasi instan itu dengan sukacita. “Ponsel memberi mereka kuasa,” ujar Mulukan Ayalu, 23, teknisi pemerintah Etiopia yang mengelola pembangkit listrik kecil di Dalifagi. “Mereka bisa menelepon pedagang kambing, menentukan harga jual.”
Generator diesel di Dalifagi menghasilkan arus listrik berkekuatan 220 volt selama enam jam per hari. Ayalu mengisi ulang baterai ponsel penduduk nomaden dengan biaya beberapa sen. Setiap Senin, orang-orang Afar berpenampilan sangar mengantre di depan pintu kantornya.
Orang-orang nomaden itu ketagihan ponsel. “Hallow? Hallow?” Elema berseru ke ponselnya di tengah jalan, pembicaraannya tentang arah menuju sebuah sumur kuno.
Oasis elektronik di Dalfagi itulah kisah nyata di Afrika sub-Sahara saat ini. Sembilan ratus juta manusia. Lesatan menuju era digital. Ledakan aspirasi. Konsekuensinya belum diketahui.
Di Segitiga Afar, Etiopia, harga air semahal emas. Inilah salah satu gurun terpanas dan terkering di dunia. Selama tiga hari berjalan kaki di dekat tebing curam di bagian barat Celah, saya dan Elema hanya menemukan satu mukjizat berwujud kubangan air hujan berlumpur untuk menuntaskan dahaga unta-unta kami. Namun, keesokan harinya, tanpa dinyana kami menemukan sebuah oasis elektron, Desa Dalifagi.
Hamparan luas padang garam yang menyelimuti perbatasan Etiopia, Jibouti, dan Eritrea, baru dipetakan pada 1920-an. Selama berabad-abad, para penggembala Afar perkasa yang menguasai wilayah ini menolak segala bentuk hubungan dengan dunia luar.
Namun, saat ini, selain menyandang persenjataan berupa belati tajam dan senapan Kalashnikov, mereka juga membawa ponsel.
Mereka menyambut peranti komunikasi instan itu dengan sukacita. “Ponsel memberi mereka kuasa,” ujar Mulukan Ayalu, 23, teknisi pemerintah Etiopia yang mengelola pembangkit listrik kecil di Dalifagi. “Mereka bisa menelepon pedagang kambing, menentukan harga jual.”
Generator diesel di Dalifagi menghasilkan arus listrik berkekuatan 220 volt selama enam jam per hari. Ayalu mengisi ulang baterai ponsel penduduk nomaden dengan biaya beberapa sen. Setiap Senin, orang-orang Afar berpenampilan sangar mengantre di depan pintu kantornya.
Orang-orang nomaden itu ketagihan ponsel. “Hallow? Hallow?” Elema berseru ke ponselnya di tengah jalan, pembicaraannya tentang arah menuju sebuah sumur kuno.
Oasis elektronik di Dalfagi itulah kisah nyata di Afrika sub-Sahara saat ini. Sembilan ratus juta manusia. Lesatan menuju era digital. Ledakan aspirasi. Konsekuensinya belum diketahui.
Di dekat Sungai Talalak, Etiopia
Sepatu merupakan patokan identitas modern. Apakah cara terbaik untuk mengetahui nilai-nilai utama yang dianut seseorang pada awal abad ke-21? Lihatlah kakinya—jangan matanya.
Di negara-negara makmur bagian “utara bola dunia”, tempat gaya busana dipakai untuk menyampaikan setiap gagasan dan keinginan, sepatu menunjukkan kelas, pilihan karier, tingkat kekerenan, keadaan seksual, bahkan pilihan politik pemakainya (bakiak versus bot koboi). Maka, sungguh aneh rasanya berjalan melewati daerah tempat manusia mengenakan alas kaki bergaya sama setiap pagi: sandal plastik Etiopia yang murah, demokratis, dan kuat.
Harganya sebesar upah kerja di lapangan seharian (sekitar dua puluh ribu rupiah). Sejuk di kaki. Sandal sejuta umat pedesaan Etiopia itu sangat ringan. Dapat didaur ulang. Dan bisa diperbaiki sendiri oleh pemiliknya: Tali plastik yang lepas hanya perlu dilelehkan dan ditempelkan kembali.
Karavan dua unta kami—yang bernama A’urta, atau Seharga Sapi, dan Suma’atuli, Cap di Kuping—akhirnya bertemu dengan pawang mereka yang sempat hilang, Mohamed Aidahis dan Kader Yarri. Kedua pria itu menyusul kami dari tempat keberangkatan. Tidak ada penjelasan yang diberikan menyangkut penyebab keterlambatan mereka selama sepekan. Keduanya mengenakan sandal plastik khas negeri ini. Warna: hijau limau.
Di Dekat Hadar, Etiopia
Kami berjalan ke arah Harenso.
Dunia seakan-akan berubah saat kita kehausan. Menyusut. Mendangkal. Cakrawala mendekat. Otak yang kehausan menyusutkan jarak Celah, mengisap berkilo-kilometer jalan melalui mata, memperbesarnya, mencermatinya untuk mencari tanda-tanda keberadaan air.
Saya dan Elema telah tersuruk-suruk sejauh lebih dari 32 kilometer di tengah panas yang menyengat. Kami memisahkan diri dari unta pengangkut untuk mengunjungi sebuah situs arkeologi yang terletak di dataran rendah: Gona, lokasi ditemukannya peralatan batu tertua di dunia (umur: 2,6 juta tahun). Botol minum kami kosong. Kami kepanasan, kesal. Kami lebih banyak diam.
Sinar matahari mengebor kepala kami. Sebuah pepatah Afar: Kalau kau tersesat atau kehausan, sebaiknya kau terus berjalan di bawah sinar matahari, karena seseorang akan melihatmu pada akhirnya. Tergoda untuk berteduh, menjatuhkan diri di bawah salah satu dari 10.000 rumpun semak berduri, berarti maut: Tidak ada yang akan menemukanmu. Maka kami terus berjalan—hingga samar-samar terdengar embikan kambing. Jika ada kambing berarti ada manusia.
Tuan rumah kami: sekeluarga Afar yang berkemah di sebuah bukit. Dua wanita tangguh penuh senyum. Delapan bocah berbalut kain tipis kumal yang dahulu mungkin baju. Dan wanita renta—dia tidak mengetahui usianya—bungkuk mirip kurcaci yang berteduh di bawah tikar anyaman. Namanya Hasna. Dia mengundang kami untuk duduk bersamanya, mengistirahatkan tulang-belulang, membuka sepatu. Dari jeriken bobrok, dia menuangkan air untuk kami—penuh endapan dan hangat, namun tetap berharga. Dia menawarkan segenggam buah beri kuning dari pohon liar yang tumbuh di lembah. Dia ibu kita.
Ketika leluhur kita berkelana di Afrika sekitar 60.000 tahun silam, mereka bertemu dengan spesies lain, yakni hominis. Kala itu dunia dihuni oleh sepupu-sepupu asing kita: Homo neanderthalensis, Homo floresiensis, Denisovan, dan mungkin manusia yang tidak terlalu mirip dengan kita.
Ketika kita bertemu dengan mereka, barangkali dengan cara seperti ini, di atas sebuah bukit terpencil, apakah kita berbagi air minum, atau bahkan berhubungan badan dengan damai, seperti yang diperkirakan oleh sebagian ahli genetika? (Di luar Afrika, populasi manusia modern cenderung mengandung sekitar 2,5 persen DNA Neanderthal.) Ataukah kita memerkosa dan membunuhnya? Di dalam sebuah gua yang dihuni oleh manusia modern, pernah ditemukan sepotong tulang rahang Neanderthal yang memiliki bekas tebasan, barangkali akibat kanibalisme. Para ilmuwan masih memperdebatkan teka-teki ini. Tetapi yang jelas, hanya kita yang bertahan untuk menguasai Bumi. Tetapi, ada harga yang harus dibayar: Kita sebatang kara.
Sepatu merupakan patokan identitas modern. Apakah cara terbaik untuk mengetahui nilai-nilai utama yang dianut seseorang pada awal abad ke-21? Lihatlah kakinya—jangan matanya.
Di negara-negara makmur bagian “utara bola dunia”, tempat gaya busana dipakai untuk menyampaikan setiap gagasan dan keinginan, sepatu menunjukkan kelas, pilihan karier, tingkat kekerenan, keadaan seksual, bahkan pilihan politik pemakainya (bakiak versus bot koboi). Maka, sungguh aneh rasanya berjalan melewati daerah tempat manusia mengenakan alas kaki bergaya sama setiap pagi: sandal plastik Etiopia yang murah, demokratis, dan kuat.
Harganya sebesar upah kerja di lapangan seharian (sekitar dua puluh ribu rupiah). Sejuk di kaki. Sandal sejuta umat pedesaan Etiopia itu sangat ringan. Dapat didaur ulang. Dan bisa diperbaiki sendiri oleh pemiliknya: Tali plastik yang lepas hanya perlu dilelehkan dan ditempelkan kembali.
Karavan dua unta kami—yang bernama A’urta, atau Seharga Sapi, dan Suma’atuli, Cap di Kuping—akhirnya bertemu dengan pawang mereka yang sempat hilang, Mohamed Aidahis dan Kader Yarri. Kedua pria itu menyusul kami dari tempat keberangkatan. Tidak ada penjelasan yang diberikan menyangkut penyebab keterlambatan mereka selama sepekan. Keduanya mengenakan sandal plastik khas negeri ini. Warna: hijau limau.
Di Dekat Hadar, Etiopia
Kami berjalan ke arah Harenso.
Dunia seakan-akan berubah saat kita kehausan. Menyusut. Mendangkal. Cakrawala mendekat. Otak yang kehausan menyusutkan jarak Celah, mengisap berkilo-kilometer jalan melalui mata, memperbesarnya, mencermatinya untuk mencari tanda-tanda keberadaan air.
Saya dan Elema telah tersuruk-suruk sejauh lebih dari 32 kilometer di tengah panas yang menyengat. Kami memisahkan diri dari unta pengangkut untuk mengunjungi sebuah situs arkeologi yang terletak di dataran rendah: Gona, lokasi ditemukannya peralatan batu tertua di dunia (umur: 2,6 juta tahun). Botol minum kami kosong. Kami kepanasan, kesal. Kami lebih banyak diam.
Sinar matahari mengebor kepala kami. Sebuah pepatah Afar: Kalau kau tersesat atau kehausan, sebaiknya kau terus berjalan di bawah sinar matahari, karena seseorang akan melihatmu pada akhirnya. Tergoda untuk berteduh, menjatuhkan diri di bawah salah satu dari 10.000 rumpun semak berduri, berarti maut: Tidak ada yang akan menemukanmu. Maka kami terus berjalan—hingga samar-samar terdengar embikan kambing. Jika ada kambing berarti ada manusia.
Tuan rumah kami: sekeluarga Afar yang berkemah di sebuah bukit. Dua wanita tangguh penuh senyum. Delapan bocah berbalut kain tipis kumal yang dahulu mungkin baju. Dan wanita renta—dia tidak mengetahui usianya—bungkuk mirip kurcaci yang berteduh di bawah tikar anyaman. Namanya Hasna. Dia mengundang kami untuk duduk bersamanya, mengistirahatkan tulang-belulang, membuka sepatu. Dari jeriken bobrok, dia menuangkan air untuk kami—penuh endapan dan hangat, namun tetap berharga. Dia menawarkan segenggam buah beri kuning dari pohon liar yang tumbuh di lembah. Dia ibu kita.
Ketika leluhur kita berkelana di Afrika sekitar 60.000 tahun silam, mereka bertemu dengan spesies lain, yakni hominis. Kala itu dunia dihuni oleh sepupu-sepupu asing kita: Homo neanderthalensis, Homo floresiensis, Denisovan, dan mungkin manusia yang tidak terlalu mirip dengan kita.
Ketika kita bertemu dengan mereka, barangkali dengan cara seperti ini, di atas sebuah bukit terpencil, apakah kita berbagi air minum, atau bahkan berhubungan badan dengan damai, seperti yang diperkirakan oleh sebagian ahli genetika? (Di luar Afrika, populasi manusia modern cenderung mengandung sekitar 2,5 persen DNA Neanderthal.) Ataukah kita memerkosa dan membunuhnya? Di dalam sebuah gua yang dihuni oleh manusia modern, pernah ditemukan sepotong tulang rahang Neanderthal yang memiliki bekas tebasan, barangkali akibat kanibalisme. Para ilmuwan masih memperdebatkan teka-teki ini. Tetapi yang jelas, hanya kita yang bertahan untuk menguasai Bumi. Tetapi, ada harga yang harus dibayar: Kita sebatang kara.
Dubti, Etiopia
Setelah berjalan lurus ke utara, kemudian ke timur, kami meninggalkan gurun dan menjejakkan kaki ke masa Antroposen—zaman manusia modern.
Aspal mulai tampak: jalan Jibouti-Etiopia yang bergetar bersama deru truk-truk. Kami melewati kota-kota kotor. Debu dan diesel.
Kemudian, di dekat Dubti: tembok pohon tebu. Berkilo-kilometer irigasi industri. Kanal-kanal. Tanggul-tanggul pengalih aliran air. Ladang-ladang yang sudah diratakan dengan buldoser. Elema kehilangan arah. Malam menyelimuti kami. Sedari tadi, kami dan kedua unta kami hanya berputar-putar saja. “Wow, man!” Elema berseru gusar. “Yang benar saja! Terlalu banyak perubahan!”
Ini adalah pabrik gula Tendaho yang bernilai jutaan dolar, sebuah proyek kerja sama Etiopia-India yang menjadikan Segitiga Afar berkembang pesat. Lima puluh ribu pekerja migran akan segera membanting tulang di sini. Pada saatnya nanti, pabrik itu akan menjadikan Etiopia produsen gula terbesar keenam di dunia. Etiopia pun akan terbebas dari ketergantungannya pada bantuan dari luar negeri.
Tetapi, keuntungan dari kemajuan ekonomi jarang dibagikan secara adil kepada semua pihak yang terlibat. Ada pemenang dan pecundang dalam setiap rencana perbaikan. Di sini, salah satu pecundangnya adalah seorang wanita muda Afar yang cerdas. “Pabrik menggusur kami,” katanya kepada kami seraya melambai ke hamparan pohon tebu. “Kami, orang-orang Afar, memang diberi pekerjaan, tapi yang terkasar. Penjaga malam. Buruh cangkul.”
Rata-rata upah di pabrik gula: 200 ribu rupiah per bulan. Kata gadis itu, polisi datang dan mengusir orang-orang Afar yang menolak pindah. Baku tembak terjadi. Darah tumpah dari kedua belah pihak.
Setua apakah kisah ini? Ini adalah salah satu kisah tertua di dunia. Manusia membentuk ulang dunia dalam sebuah siklus perubahan yang mengelupas ingatan bersama lapisan teratas tanah.
Dubti adalah daerah perbatasan yang sibuk dan hijau. Seluruh Etiopia berbondong-bondong mendatanginya, berbekal harapan baru, selera, ambisi, dan masa depan baru—sejarah baru.
Setelah berjalan lurus ke utara, kemudian ke timur, kami meninggalkan gurun dan menjejakkan kaki ke masa Antroposen—zaman manusia modern.
Aspal mulai tampak: jalan Jibouti-Etiopia yang bergetar bersama deru truk-truk. Kami melewati kota-kota kotor. Debu dan diesel.
Kemudian, di dekat Dubti: tembok pohon tebu. Berkilo-kilometer irigasi industri. Kanal-kanal. Tanggul-tanggul pengalih aliran air. Ladang-ladang yang sudah diratakan dengan buldoser. Elema kehilangan arah. Malam menyelimuti kami. Sedari tadi, kami dan kedua unta kami hanya berputar-putar saja. “Wow, man!” Elema berseru gusar. “Yang benar saja! Terlalu banyak perubahan!”
Ini adalah pabrik gula Tendaho yang bernilai jutaan dolar, sebuah proyek kerja sama Etiopia-India yang menjadikan Segitiga Afar berkembang pesat. Lima puluh ribu pekerja migran akan segera membanting tulang di sini. Pada saatnya nanti, pabrik itu akan menjadikan Etiopia produsen gula terbesar keenam di dunia. Etiopia pun akan terbebas dari ketergantungannya pada bantuan dari luar negeri.
Tetapi, keuntungan dari kemajuan ekonomi jarang dibagikan secara adil kepada semua pihak yang terlibat. Ada pemenang dan pecundang dalam setiap rencana perbaikan. Di sini, salah satu pecundangnya adalah seorang wanita muda Afar yang cerdas. “Pabrik menggusur kami,” katanya kepada kami seraya melambai ke hamparan pohon tebu. “Kami, orang-orang Afar, memang diberi pekerjaan, tapi yang terkasar. Penjaga malam. Buruh cangkul.”
Rata-rata upah di pabrik gula: 200 ribu rupiah per bulan. Kata gadis itu, polisi datang dan mengusir orang-orang Afar yang menolak pindah. Baku tembak terjadi. Darah tumpah dari kedua belah pihak.
Setua apakah kisah ini? Ini adalah salah satu kisah tertua di dunia. Manusia membentuk ulang dunia dalam sebuah siklus perubahan yang mengelupas ingatan bersama lapisan teratas tanah.
Dubti adalah daerah perbatasan yang sibuk dan hijau. Seluruh Etiopia berbondong-bondong mendatanginya, berbekal harapan baru, selera, ambisi, dan masa depan baru—sejarah baru.
Di dekat perbatasan Etiopia-Jibouti
Kami berkemah di lereng Gunung Fatuma, benteng basalt berpemandangan jalan karavan yang mengarah ke timur menuju kesultanan pantai tua Tadjoura. Negara republik kecil Jibouti membentang di bawah kami: terpanggang matahari, lebih panas dan kering daripada gurun di Etiopia. Di tempat inilah saya berpisah dengan kedua pawang unta Afar dari Herto Bouri.
Elema, Yarri, dan Aidahis telah menyatakan kesiapan mereka untuk terus maju. Tetapi itu mustahil. Mereka tidak memiliki paspor, dokumen, dan pernyataan di atas kertas apa pun tentang identitas mereka.
Seperti apakah rasanya berjalan kaki mengelilingi dunia?
Seperti pagi ini: Membuka mata dan melihat langit yang membentang tanpa batas, hari demi hari; ketika kita pertama kali membuka mata, seakan-akan menyedot kita ke atas, keluar dari raga. Seperti jelasnya rasa lapar.
Kami berjalan kaki sejauh 29 kilometer kemarin dengan perbekalan minim, hanya semangkuk mi dan segenggam biskuit untuk masing-masing orang. Cincin kawin saya, yang semula menempel ketat di jari, kini terasa longgar. Seperti belajar membaca lanskap alam dengan seluruh badan dan kulit. Kami merasakan keberadaan makanan unta di tengah semak berduri, kedatangan debu di aroma angin, dan tentu saja, air yang berharga. Seperti menyaksikan keabadian Afrika berlalu seiring langkah kaki. Samar-samar kami menyadari bahwa, walaupun hanya berkecepatan lima kilometer per jam, laju ini masih terlalu cepat.
Pada hari-hari baik, kami berempat menyadari keberuntungan luar biasa. Kami meluncur menuruni jalan-jalan pegunungan yang curam, nyaris berlari, dengan kilap gurun Etiopia di kaki. Kami berlomba membuat gema ternyaring di ngarai-ngarai berdinding batu hitam. Kemudian kami saling memandang, tiga pria Afar dan satu pria dari belahan Bumi lain, kemudian menyeringai seperti bocah.
Seperti apakah rasanya berjalan kaki mengelilingi dunia? Seperti ini. Seperti permainan serius. Saya akan merindukan mereka.
Kami berkemah di lereng Gunung Fatuma, benteng basalt berpemandangan jalan karavan yang mengarah ke timur menuju kesultanan pantai tua Tadjoura. Negara republik kecil Jibouti membentang di bawah kami: terpanggang matahari, lebih panas dan kering daripada gurun di Etiopia. Di tempat inilah saya berpisah dengan kedua pawang unta Afar dari Herto Bouri.
Elema, Yarri, dan Aidahis telah menyatakan kesiapan mereka untuk terus maju. Tetapi itu mustahil. Mereka tidak memiliki paspor, dokumen, dan pernyataan di atas kertas apa pun tentang identitas mereka.
Seperti apakah rasanya berjalan kaki mengelilingi dunia?
Seperti pagi ini: Membuka mata dan melihat langit yang membentang tanpa batas, hari demi hari; ketika kita pertama kali membuka mata, seakan-akan menyedot kita ke atas, keluar dari raga. Seperti jelasnya rasa lapar.
Kami berjalan kaki sejauh 29 kilometer kemarin dengan perbekalan minim, hanya semangkuk mi dan segenggam biskuit untuk masing-masing orang. Cincin kawin saya, yang semula menempel ketat di jari, kini terasa longgar. Seperti belajar membaca lanskap alam dengan seluruh badan dan kulit. Kami merasakan keberadaan makanan unta di tengah semak berduri, kedatangan debu di aroma angin, dan tentu saja, air yang berharga. Seperti menyaksikan keabadian Afrika berlalu seiring langkah kaki. Samar-samar kami menyadari bahwa, walaupun hanya berkecepatan lima kilometer per jam, laju ini masih terlalu cepat.
Pada hari-hari baik, kami berempat menyadari keberuntungan luar biasa. Kami meluncur menuruni jalan-jalan pegunungan yang curam, nyaris berlari, dengan kilap gurun Etiopia di kaki. Kami berlomba membuat gema ternyaring di ngarai-ngarai berdinding batu hitam. Kemudian kami saling memandang, tiga pria Afar dan satu pria dari belahan Bumi lain, kemudian menyeringai seperti bocah.
Seperti apakah rasanya berjalan kaki mengelilingi dunia? Seperti ini. Seperti permainan serius. Saya akan merindukan mereka.
Ladang lava Ardoukoba, Jibouti
Kematian menyapa pada hari ke-42 perjalanan ini. Ada lima, enam, tujuh orang—pria dan wanita yang tergeletak dengan wajah menengadah, menelungkup, di ladang lava hitam seolah-olah jatuh dari langit. Semuanya telanjang. Mereka melucuti pakaian di tengah kekalutan. Kulit mayat-mayat itu kering kerontang, terbakar dan menguning. Anjing-anjing liar yang datang pada malam hari telah menggondol tangan, kaki mereka. Mereka mungkin orang Etiopia. Atau Somalia. Beberapa di antaranya, mungkin, orang Eritrea.
Mereka tengah berjalan ke timur. Mereka hendak pergi ke Teluk Aden—mencari kapal-kapal terbuka milik orang-orang Yaman yang menyelundupkan penduduk miskin dari Afrika untuk menjadi pekerja kasar di Timur Tengah. Berapakah jumlah migran seperti mereka yang tewas di Segitiga Afar? Tidak ada yang tahu. Setidaknya terdapat 100.000 upaya penyeberangan ke Semenanjung Arabia setiap tahun, menurut PBB. Polisi memburu mereka. Mereka tersesat. Dahaga membunuh mereka.
“Kriminal!” Houssain Mohamed Houssain menyanggah saya. “Memalukan!”
Houssain adalah pemandu saya di Jibouti. Dia orang baik. Dia berjalan jauh di depan saya, mengibas-ngibaskan tongkatnya di langit. Saya berjalan santai di belakangnya.
Pakar demografi telah memperkirakan bahwa 93 persen dari seluruh manusia yang pernah hidup di dunia—lebih dari 100 miliar jiwa—sudah punah.
Sebagian besar umat manusia telah tiada. Gundukan sakit hati dan kejayaan berbaris di belakang kita. Walaupun saya sudah mengatakan bahwa saya berjalan kaki untuk mengingat, ini tidak sepenuhnya benar. Seraya terus mencoba menemukan kembali Bumi ini, kita juga harus memulai perjalanan untuk melupakan. Houssain tampaknya menyadari hal ini. Dia tidak pernah menengok ke belakang.
Sehari kemudian, kami tiba di Teluk Aden.
Pantai berkerikil kelabu. Ombak perak yang menghantam-hantam. Kami bersalaman. Kami tertawa. Houssain membuka sekantong kurma yang selama ini disimpannya. Kami berdiri di tepi Afrika. Saya menuliskan kalimat di jurnal: Saya bahagia.
Para penjelajah yang berani, tolol, dan putus asa. Kalian nyaris berhasil. Kalian jatuh lima kilometer dari pantai.
===
Paul Salopek, jurnalis pemenang Pulitzer Awards. Buku pertamanya yang ditulis berdasarkan perjalanan ini, A Walk Through Time, akan diterbitkan Random House pada 2016. John Stanmeyer, pernah menerima penghargaan Robert Capa dan Magazine Photographer of the Year.
Kematian menyapa pada hari ke-42 perjalanan ini. Ada lima, enam, tujuh orang—pria dan wanita yang tergeletak dengan wajah menengadah, menelungkup, di ladang lava hitam seolah-olah jatuh dari langit. Semuanya telanjang. Mereka melucuti pakaian di tengah kekalutan. Kulit mayat-mayat itu kering kerontang, terbakar dan menguning. Anjing-anjing liar yang datang pada malam hari telah menggondol tangan, kaki mereka. Mereka mungkin orang Etiopia. Atau Somalia. Beberapa di antaranya, mungkin, orang Eritrea.
Mereka tengah berjalan ke timur. Mereka hendak pergi ke Teluk Aden—mencari kapal-kapal terbuka milik orang-orang Yaman yang menyelundupkan penduduk miskin dari Afrika untuk menjadi pekerja kasar di Timur Tengah. Berapakah jumlah migran seperti mereka yang tewas di Segitiga Afar? Tidak ada yang tahu. Setidaknya terdapat 100.000 upaya penyeberangan ke Semenanjung Arabia setiap tahun, menurut PBB. Polisi memburu mereka. Mereka tersesat. Dahaga membunuh mereka.
“Kriminal!” Houssain Mohamed Houssain menyanggah saya. “Memalukan!”
Houssain adalah pemandu saya di Jibouti. Dia orang baik. Dia berjalan jauh di depan saya, mengibas-ngibaskan tongkatnya di langit. Saya berjalan santai di belakangnya.
Pakar demografi telah memperkirakan bahwa 93 persen dari seluruh manusia yang pernah hidup di dunia—lebih dari 100 miliar jiwa—sudah punah.
Sebagian besar umat manusia telah tiada. Gundukan sakit hati dan kejayaan berbaris di belakang kita. Walaupun saya sudah mengatakan bahwa saya berjalan kaki untuk mengingat, ini tidak sepenuhnya benar. Seraya terus mencoba menemukan kembali Bumi ini, kita juga harus memulai perjalanan untuk melupakan. Houssain tampaknya menyadari hal ini. Dia tidak pernah menengok ke belakang.
Sehari kemudian, kami tiba di Teluk Aden.
Pantai berkerikil kelabu. Ombak perak yang menghantam-hantam. Kami bersalaman. Kami tertawa. Houssain membuka sekantong kurma yang selama ini disimpannya. Kami berdiri di tepi Afrika. Saya menuliskan kalimat di jurnal: Saya bahagia.
Para penjelajah yang berani, tolol, dan putus asa. Kalian nyaris berhasil. Kalian jatuh lima kilometer dari pantai.
===
Paul Salopek, jurnalis pemenang Pulitzer Awards. Buku pertamanya yang ditulis berdasarkan perjalanan ini, A Walk Through Time, akan diterbitkan Random House pada 2016. John Stanmeyer, pernah menerima penghargaan Robert Capa dan Magazine Photographer of the Year.
Gagal? Kenapa Tidak?
Apalah arti kita tanpa kegagalan?
OLEH HANNAH BLOCH
FOTO OLEH ROBERT E. PEARY
FOTO OLEH ROBERT E. PEARY
Pada akhir abad ke-19, seorang insinyur Swedia yang terpesona oleh janji dan berbagai kemungkinan yang ditawarkan oleh teknologi, memperoleh sebuah gagasan radikal. "Kenapa saya tidak menerbangkan sebuah balon hidrogen dan menjadi orang pertama yang menginjakkan kaki di Kutub Utara?" Bertahun-tahun, para penjelajah mencoba mencapai daratan Kutub; banyak di antara mereka tewas dalam upaya tersebut.
Sebuah ekspedisi udara, pikir Salomon August Andreé, tidak akan berisiko sebesar itu. Maka, pada suatu hari berangin di Juli 1897, Andreé dan dua orang rekannya yang lebih muda memasuki keranjang balon udara bergaris tengah 20 meter di Pulau Danes, bagian dari Kepulauan Svalbard.
Tim itu membekali diri dengan papan luncur, makanan untuk beberapa bulan, merpati-merpati pos untuk mengirim pesan, bahkan setelan tuksedo yang diharapkan Andreé akan dikenakannya pada akhir perjalanan. Selagi para jurnalis dan pendukung bersorak-sorai melepas kepergian mereka, tim itu melesat ke udara, terbang menuju tempat yang belum pernah dilihat manusia lain.
Saat balon naik, angin langsung menerjangnya. Kabut beku membebaninya. Selama 65,5 jam Eagle terbang lambat, kadang-kadang melayang rendah di atas Samudra Arktika. Tiga puluh tiga tahun kemudian, sekelompok pemburu anjing laut menemukan jenazah beku Andreé dan awaknya—beserta kamera dan buku harian mereka, yang mengungkapkan bahwa mereka terpaksa mendarat di atas bongkahan es, 480 kilometer dari Kutub Utara. Ketiganya tewas dalam tiga bulan perjalanan darat yang berat ke selatan.
Kegagalan—yang senantiasa dihindari, selalu ditakuti, tetapi mustahil diabaikan—adalah momok yang menghantui setiap upaya penjelajahan. Namun, tanpa sengatan kegagalan yang mendorong kita untuk merenung dan berpikir ulang, kemajuan tak akan didapatkan.
Belakangan ini, kegagalan mulai dianggap sebagai sesuatu yang penting. Para pendidik memikirkan cara untuk membuat anak-anak lebih nyaman dalam menghadapi kegagalan. Sekolah bisnis memasukkannya ke dalam kurikulum mereka. Para psikolog mempelajari cara untuk mengatasinya, biasanya dengan tujuan untuk memperbaiki peluang kesuksesan.
Sesungguhnya kata "sukses" sendiri berasal dari bahasa Latin succedere, "yang mengikuti".Mengikuti apa? Ya, kegagalan. Yang satu tidak akan ada tanpa yang lain. Pakar oseanografi Robert Ballard, seorang veteran yang sudah menjalani 130 ekspedisi bawah laut dan menemukan Titanic, menyebut hubungan ini sebagai yin yang kesuksesan dan kegagalan.
Bahkan pada titik terbawahnya, kegagalan memberikan informasi untuk membantu kita mengulangi usaha dengan cara yang berbeda di lain waktu. "Saya mempelajari cara mendaki yang salah dalam empat kali percobaan mencapai puncak Everest," ujar pendaki Pete Athans, yang telah tujuh kali menginjakkan kaki di puncak gunung tertinggi di dunia itu. "Kegagalan memberi Anda kesempatan untuk memoles pendekatan Anda. Cara Anda dalam menghadapi risiko akan semakin pintar."
Kegagalan juga menjadi pengingat bahwa keberuntungan memegang peran dalam upaya apa pun. Alan Hikes, satu dari segelintir pendaki yang berhasil menaklukkan puncak-puncak gunung tertinggi di dunia, menyampaikan pendapatnya tentang nasib sial: lengannya patah, kakinya tertusuk dahan pohon, bersin hebat di dekat puncak Nanga Parbat berketinggian 8.126 di Pakistan sehingga ruas tulang belakangnya meleset dan harus menghentikan pendakian. "Saya bisa saja tewas," ia mengakui.
Bagi kebanyakan penjelajah, hanya ada satu kegagalan yang benar-benar berarti: tak pulang akibat kehilangan nyawa. Bagi orang awam seperti kita, akhir tragis semacam itu hanya dianggap sebagai imajinasi, alih-alih kesuksesan. Robert Falcon Scott, yang meninggal bersama timnya setelah menginjakkan kaki di Kutub Selatan pada 1912 dianggap sebagai pahlawan di Inggris. Orang-orang Australia tersentuh oleh kisah mencekam ekspedisi selatan-ke-utara pada abad ke-19, yang berakhir dengan kematian para pemimpin kelompok.
Kisah-kisah itu menempel di benak kita untuk alasan yang sama dengan kegagalan kita sendiri: "Kita mengingat kegagalan karena kita masih menganalisisnya," kata Ballard. Kesuksesan, di sisi lain, "cepat terlupakan."
Kegagalan riset ilmiah jarang dipublikasikan, karena reputasi dan pendanaan di masa depan bergantung pada persepsi kesuksesan. Namun, selama dekade terakhir, setidaknya enam jurnal—sebagian besar di bidang kedokteran dan konservasi—memuat kegagalan eksperimen, penelitian, dan uji coba klinis. Pemikirannya: Hasil "negatif" mendatangkan dampak positif.
Sebuah ekspedisi udara, pikir Salomon August Andreé, tidak akan berisiko sebesar itu. Maka, pada suatu hari berangin di Juli 1897, Andreé dan dua orang rekannya yang lebih muda memasuki keranjang balon udara bergaris tengah 20 meter di Pulau Danes, bagian dari Kepulauan Svalbard.
Tim itu membekali diri dengan papan luncur, makanan untuk beberapa bulan, merpati-merpati pos untuk mengirim pesan, bahkan setelan tuksedo yang diharapkan Andreé akan dikenakannya pada akhir perjalanan. Selagi para jurnalis dan pendukung bersorak-sorai melepas kepergian mereka, tim itu melesat ke udara, terbang menuju tempat yang belum pernah dilihat manusia lain.
Saat balon naik, angin langsung menerjangnya. Kabut beku membebaninya. Selama 65,5 jam Eagle terbang lambat, kadang-kadang melayang rendah di atas Samudra Arktika. Tiga puluh tiga tahun kemudian, sekelompok pemburu anjing laut menemukan jenazah beku Andreé dan awaknya—beserta kamera dan buku harian mereka, yang mengungkapkan bahwa mereka terpaksa mendarat di atas bongkahan es, 480 kilometer dari Kutub Utara. Ketiganya tewas dalam tiga bulan perjalanan darat yang berat ke selatan.
Kegagalan—yang senantiasa dihindari, selalu ditakuti, tetapi mustahil diabaikan—adalah momok yang menghantui setiap upaya penjelajahan. Namun, tanpa sengatan kegagalan yang mendorong kita untuk merenung dan berpikir ulang, kemajuan tak akan didapatkan.
Belakangan ini, kegagalan mulai dianggap sebagai sesuatu yang penting. Para pendidik memikirkan cara untuk membuat anak-anak lebih nyaman dalam menghadapi kegagalan. Sekolah bisnis memasukkannya ke dalam kurikulum mereka. Para psikolog mempelajari cara untuk mengatasinya, biasanya dengan tujuan untuk memperbaiki peluang kesuksesan.
Sesungguhnya kata "sukses" sendiri berasal dari bahasa Latin succedere, "yang mengikuti".Mengikuti apa? Ya, kegagalan. Yang satu tidak akan ada tanpa yang lain. Pakar oseanografi Robert Ballard, seorang veteran yang sudah menjalani 130 ekspedisi bawah laut dan menemukan Titanic, menyebut hubungan ini sebagai yin yang kesuksesan dan kegagalan.
Bahkan pada titik terbawahnya, kegagalan memberikan informasi untuk membantu kita mengulangi usaha dengan cara yang berbeda di lain waktu. "Saya mempelajari cara mendaki yang salah dalam empat kali percobaan mencapai puncak Everest," ujar pendaki Pete Athans, yang telah tujuh kali menginjakkan kaki di puncak gunung tertinggi di dunia itu. "Kegagalan memberi Anda kesempatan untuk memoles pendekatan Anda. Cara Anda dalam menghadapi risiko akan semakin pintar."
Kegagalan juga menjadi pengingat bahwa keberuntungan memegang peran dalam upaya apa pun. Alan Hikes, satu dari segelintir pendaki yang berhasil menaklukkan puncak-puncak gunung tertinggi di dunia, menyampaikan pendapatnya tentang nasib sial: lengannya patah, kakinya tertusuk dahan pohon, bersin hebat di dekat puncak Nanga Parbat berketinggian 8.126 di Pakistan sehingga ruas tulang belakangnya meleset dan harus menghentikan pendakian. "Saya bisa saja tewas," ia mengakui.
Bagi kebanyakan penjelajah, hanya ada satu kegagalan yang benar-benar berarti: tak pulang akibat kehilangan nyawa. Bagi orang awam seperti kita, akhir tragis semacam itu hanya dianggap sebagai imajinasi, alih-alih kesuksesan. Robert Falcon Scott, yang meninggal bersama timnya setelah menginjakkan kaki di Kutub Selatan pada 1912 dianggap sebagai pahlawan di Inggris. Orang-orang Australia tersentuh oleh kisah mencekam ekspedisi selatan-ke-utara pada abad ke-19, yang berakhir dengan kematian para pemimpin kelompok.
Kisah-kisah itu menempel di benak kita untuk alasan yang sama dengan kegagalan kita sendiri: "Kita mengingat kegagalan karena kita masih menganalisisnya," kata Ballard. Kesuksesan, di sisi lain, "cepat terlupakan."
Kegagalan riset ilmiah jarang dipublikasikan, karena reputasi dan pendanaan di masa depan bergantung pada persepsi kesuksesan. Namun, selama dekade terakhir, setidaknya enam jurnal—sebagian besar di bidang kedokteran dan konservasi—memuat kegagalan eksperimen, penelitian, dan uji coba klinis. Pemikirannya: Hasil "negatif" mendatangkan dampak positif.
Dunia bisnis telah memahami nilai hasil riset negatif, jika berbiaya rendah dan tak merusak. Untuk menggalakkan kewirausahaan, Bank ABN AMRO yang berpusat di Belanda mendirikan Institute of Brilliant Failures. Eli Lilly and Company, raksasa farmasi, mulai mencanangkan "perayaan hasil berfokus R&D"—pesta kegagalan—dua puluh tahun silam untuk menghormati data yang menumpuk dari uji coba atas obat yang tak berfungsi.
Para pemimpin bisnis kerap mencari pelajaran mendasar dari kegagalan, tetapi mereka juga memperoleh keuntungan dari gambaran kebenaran yang lebih besar. Seorang profesor dari Harvard Business School, Nancy Koehn, setidaknya telah seratus kali menyampaikan kisah tentang penjelajah kutub kelahiran Irlandia, Ernest Shackleton. Ekspedisinya melintasi Antartika pada 1914-16 terhenti ketika kapalnya, Endurance, terperangkap di es. Shackleton mengubah tujuannya dari menjelajah, menjadi memastikan dirinya dan krunya pulang dengan selamat.
"Dilihat dari kacamata penjelajahan, ini sebuah kegagalan besar, bukan?" kata Koehn. "Tetapi kisah ini menginspirasi banyak orang sebagian justru karena kegagalannya. Di masa ini pelanggaran korporat jamak terjadi, dan perusahaan yang diminta bertanggung jawab kerap berkilah, "Itu bukan kesalahan kami." Tetapi Shackleton berakad, Demi Tuhan, saya akan membereskannya. Dia bertanggung jawab atas kekacauan itu." Shackleton membawa 27 anggota timnya pulang dengan selamat. "Dia manajer krisis yang andal," kata Koehn.
Kegigihan. Ketahanan. Kemampuan beradaptasi, dan manajemen krisis. Semuanya adalah kunci utama penjelajahan, juga kehidupan. Berfokus pada tujuan juga membantu: Penjelajah cenderung memandang jauh ke depan, menyadari kemungkinan kegagalan maupun kesuksesan. "Perlakukanlah keduanya dengan cara yang sama," nasihat Kipling dalam puisinya, If. "Begitulah perasaan saya," ujar penjelajah gua Kenny Broad. Banyak koleganya yang tewas di tengah penyelaman scuba dalam di labirin gua. "Saat menyelam, Anda bisa saja beruntung. Beberapa kali beruntung, dan Anda akan mulai menganggapnya sebagai keahlian. Garis pembatas antara kesuksesan dan kegagalan dalam penjelajahan yang berani amatlah tipis."
Teknologi bisa membantu penerbangan melintasi Arktika (kesuksesan pertama penerbangan ke Kutub Utara terjadi 30 tahun setelah upaya Andrée) dan membuka pintu lain. Pemancar satelit, komunikasi yang dapat diandalkan, kemajuan di bidang meteorologi, dan robot pembantu hanyalah beberapa inovasi yang mendobrak batasan eksplorasi. Tetapi, bahkan Ballard, yang dibantu oleh robot dalam penemuan besarnya, menegaskan bahwa teknologi "tak menjadikan segalanya mungkin."
Dan itu bagus. "Jika Anda menyingkirkan ketidakpastian, motivasi turut tersingkir," kata Athans. "Keinginan melebarkan jangkauan adalah sifat alami manusia. Tak perlu keajaiban untuk mencapai tempat yang sudah kita ketahui bisa kita capai."
==================
Hannah Bloch pernah menulis tentang arkeologi Pulau Paskah di edisi Juli 2012.
Para pemimpin bisnis kerap mencari pelajaran mendasar dari kegagalan, tetapi mereka juga memperoleh keuntungan dari gambaran kebenaran yang lebih besar. Seorang profesor dari Harvard Business School, Nancy Koehn, setidaknya telah seratus kali menyampaikan kisah tentang penjelajah kutub kelahiran Irlandia, Ernest Shackleton. Ekspedisinya melintasi Antartika pada 1914-16 terhenti ketika kapalnya, Endurance, terperangkap di es. Shackleton mengubah tujuannya dari menjelajah, menjadi memastikan dirinya dan krunya pulang dengan selamat.
"Dilihat dari kacamata penjelajahan, ini sebuah kegagalan besar, bukan?" kata Koehn. "Tetapi kisah ini menginspirasi banyak orang sebagian justru karena kegagalannya. Di masa ini pelanggaran korporat jamak terjadi, dan perusahaan yang diminta bertanggung jawab kerap berkilah, "Itu bukan kesalahan kami." Tetapi Shackleton berakad, Demi Tuhan, saya akan membereskannya. Dia bertanggung jawab atas kekacauan itu." Shackleton membawa 27 anggota timnya pulang dengan selamat. "Dia manajer krisis yang andal," kata Koehn.
Kegigihan. Ketahanan. Kemampuan beradaptasi, dan manajemen krisis. Semuanya adalah kunci utama penjelajahan, juga kehidupan. Berfokus pada tujuan juga membantu: Penjelajah cenderung memandang jauh ke depan, menyadari kemungkinan kegagalan maupun kesuksesan. "Perlakukanlah keduanya dengan cara yang sama," nasihat Kipling dalam puisinya, If. "Begitulah perasaan saya," ujar penjelajah gua Kenny Broad. Banyak koleganya yang tewas di tengah penyelaman scuba dalam di labirin gua. "Saat menyelam, Anda bisa saja beruntung. Beberapa kali beruntung, dan Anda akan mulai menganggapnya sebagai keahlian. Garis pembatas antara kesuksesan dan kegagalan dalam penjelajahan yang berani amatlah tipis."
Teknologi bisa membantu penerbangan melintasi Arktika (kesuksesan pertama penerbangan ke Kutub Utara terjadi 30 tahun setelah upaya Andrée) dan membuka pintu lain. Pemancar satelit, komunikasi yang dapat diandalkan, kemajuan di bidang meteorologi, dan robot pembantu hanyalah beberapa inovasi yang mendobrak batasan eksplorasi. Tetapi, bahkan Ballard, yang dibantu oleh robot dalam penemuan besarnya, menegaskan bahwa teknologi "tak menjadikan segalanya mungkin."
Dan itu bagus. "Jika Anda menyingkirkan ketidakpastian, motivasi turut tersingkir," kata Athans. "Keinginan melebarkan jangkauan adalah sifat alami manusia. Tak perlu keajaiban untuk mencapai tempat yang sudah kita ketahui bisa kita capai."
==================
Hannah Bloch pernah menulis tentang arkeologi Pulau Paskah di edisi Juli 2012.
Kebenaran soal Lubang Hitam
Selama ini Albert Einstein keliru.
OLEH MICHAEL FINKEL
FOTO OLEH
FOTO OLEH
Bintang kita, Matahari, akan mati diam-diam. Massa Matahari hanya rata-rata untuk ukuran bintang. Setelah bahan bakar hidrogennya habis terbakar sekitar lima miliar tahun lagi, lapisan-lapisan luarnya akan terlepas perlahan. Bagian intinya akhirnya akan memadat, menjadi apa yang disebut sebagai katai putih.
Untuk bintang yang besarnya sepuluh kali lipat Matahari, kematiannya jauh lebih dramatis. Lapisan-lapisan luarnya terlontar ke ruang angkasa dalam ledakan supernova. Sementara itu, intinya dipadatkan oleh gravitasi menjadi bintang neutron, bola berputar yang berdiameter sekitar 20 kilometer. Pecahan bintang neutron sebesar kubus gula memiliki berat satu miliar ton di Bumi; tarikan gravitasi bintang neutron begitu besar, sehingga andai ada permen jatuh di sana, benturannya akan menghasilkan energi sebesar bom atom.
Tetapi, ini belum apa-apa ketimbang sakratulmaut bintang yang massanya 20 kali lipat Matahari. Jika bom atom sebesar Hiroshima diledakkan setiap milidetik sepanjang usia alam semesta, itu masih kalah jauh dari jumlah energi yang dilepaskan dalam saat-saat terakhir keruntuhan bintang raksasa. Inti bintang itu terjun ke dalam. Suhunya mencapai 55 miliar derajat Celsius. Gaya gravitasinya dahsyat, tak terhentikan. Bongkah-bongkah besi yang lebih besar daripada Gunung Everest dipadatkan seketika menjadi sekecil butir pasir. Atom tercerai-berai menjadi elektron, proton, neutron. Benda-benda kecil itu dilumat menjadi quark, lepton, dan gluon. Dan seterusnya, makin lama makin kecil, makin padat, hingga...
Hingga entah bagaimana. Saat berusaha menjelaskan fenomena penting ini, dua teori utama yang mengatur cara kerja alam semesta—relativitas umum dan mekanika kuantum—berantakan, ibarat jarum indikator pesawat terbang yang berputar-putar liar saat pesawat jatuh spiral.
Bintang itu menjadi lubang hitam.
Yang menjadikan lubang hitam jurang tergelap di alam semesta adalah kecepatan yang diperlukan untuk lolos dari tarikan gravitasinya. Untuk mengatasi cengkeraman Bumi, kita harus mencapai 11 kilometer per detik. Ini cepat—enam kali lipat kecepatan peluru—tetapi roket buatan manusia sudah berhasil mencapai kecepatan ini sejak 1959. Batas kecepatan universal adalah 299.792 kilometer per detik, yaitu kecepatan cahaya. Namun, itu pun belum cukup untuk mengalahkan tarikan lubang hitam.
Maka, apa pun yang berada di dalam lubang hitam, berkas cahaya sekalipun, tidak dapat keluar. Dan akibat efek aneh gravitasi ekstrem, kita tidak mungkin bisa mengintip ke dalam. Garis pemisah antara di dalam dan di luar lubang hitam disebut 'cakrawala peristiwa'. Apa pun yang melewati cakrawala itu—bintang, planet, manusia—hilang selamanya.
Untuk bintang yang besarnya sepuluh kali lipat Matahari, kematiannya jauh lebih dramatis. Lapisan-lapisan luarnya terlontar ke ruang angkasa dalam ledakan supernova. Sementara itu, intinya dipadatkan oleh gravitasi menjadi bintang neutron, bola berputar yang berdiameter sekitar 20 kilometer. Pecahan bintang neutron sebesar kubus gula memiliki berat satu miliar ton di Bumi; tarikan gravitasi bintang neutron begitu besar, sehingga andai ada permen jatuh di sana, benturannya akan menghasilkan energi sebesar bom atom.
Tetapi, ini belum apa-apa ketimbang sakratulmaut bintang yang massanya 20 kali lipat Matahari. Jika bom atom sebesar Hiroshima diledakkan setiap milidetik sepanjang usia alam semesta, itu masih kalah jauh dari jumlah energi yang dilepaskan dalam saat-saat terakhir keruntuhan bintang raksasa. Inti bintang itu terjun ke dalam. Suhunya mencapai 55 miliar derajat Celsius. Gaya gravitasinya dahsyat, tak terhentikan. Bongkah-bongkah besi yang lebih besar daripada Gunung Everest dipadatkan seketika menjadi sekecil butir pasir. Atom tercerai-berai menjadi elektron, proton, neutron. Benda-benda kecil itu dilumat menjadi quark, lepton, dan gluon. Dan seterusnya, makin lama makin kecil, makin padat, hingga...
Hingga entah bagaimana. Saat berusaha menjelaskan fenomena penting ini, dua teori utama yang mengatur cara kerja alam semesta—relativitas umum dan mekanika kuantum—berantakan, ibarat jarum indikator pesawat terbang yang berputar-putar liar saat pesawat jatuh spiral.
Bintang itu menjadi lubang hitam.
Yang menjadikan lubang hitam jurang tergelap di alam semesta adalah kecepatan yang diperlukan untuk lolos dari tarikan gravitasinya. Untuk mengatasi cengkeraman Bumi, kita harus mencapai 11 kilometer per detik. Ini cepat—enam kali lipat kecepatan peluru—tetapi roket buatan manusia sudah berhasil mencapai kecepatan ini sejak 1959. Batas kecepatan universal adalah 299.792 kilometer per detik, yaitu kecepatan cahaya. Namun, itu pun belum cukup untuk mengalahkan tarikan lubang hitam.
Maka, apa pun yang berada di dalam lubang hitam, berkas cahaya sekalipun, tidak dapat keluar. Dan akibat efek aneh gravitasi ekstrem, kita tidak mungkin bisa mengintip ke dalam. Garis pemisah antara di dalam dan di luar lubang hitam disebut 'cakrawala peristiwa'. Apa pun yang melewati cakrawala itu—bintang, planet, manusia—hilang selamanya.
Albert Einstein, salah seorang pemikir paling imajinatif dalam sejarah fisika, tidak pernah meyakini bahwa lubang hitam itu nyata. Menurut rumus-rumusnya, lubang hitam mungkin saja ada, tetapi dia merasa bahwa alam tidak mungkin mengizinkan keberadaan benda semacam itu. Dia tidak dapat menerima bahwa gravitasi dapat mengalahkan gaya yang semestinya lebih kuat—elektromagnetik, nuklir—dan menyebabkan inti suatu bintang raksasa hilang dari alam semesta.
Einstein tidaklah sendirian. Pada paruh pertama abad ke-20, sebagian besar fisikawan menepiskan kemungkinan adanya benda yang cukup padat untuk mencekik cahaya.
Namun, para ilmuwan sudah bertanya-tanya tentang kemungkinan tersebut bahkan sejak abad ke-18. Filsuf Inggris John Michell menyebutkan konsep itu dalam laporan kepada Royal Society of London pada 1783. Tidak ada yang menyebut benda aneh superpadat ini lubang hitam—benda ini disebut sebagai bintang beku, bintang gelap, bintang runtuh, atau singularitas Schwarzschild. Nama "lubang hitam" pertama kali digunakan pada 1967, dalam ceramah fisikawan Amerika John Wheeler di Columbia University di New York.
Pada kira-kira waktu yang sama, ada pergeseran radikal dalam pemikiran lubang hitam, terutama karena penciptaan cara-cara baru melihat ruang angkasa. Sejak awal masa, kita terbatasi pada spektrum cahaya tampak. Namun, pada 1960-an, teleskop sinar-x dan gelombang radio mulai digunakan secara luas. Dengan alat ini, astronom dapat mengumpulkan cahaya dalam panjang gelombang yang menembus debu antarbintang, dan melihat "tulang interior" galaksi.
Yang mengejutkan, hal yang ditemukan ilmuwan adalah bahwa di pusat hampir semua galaksi—dan ada lebih dari 100 miliar galaksi di alam semesta—terdapat kumpulan ramai bintang, gas, dan debu. Di pusat kumpulan semrawut ini, di hampir setiap galaksi yang dilihat, termasuk Bima Sakti kita sendiri, terdapat sebuah benda yang begitu berat dan begitu padat, dengan tarikan gravitasi yang amat ganas, sehingga bagaimana pun cara mengukurnya, hanya ada satu penjelasan yang mungkin: Benda itu lubang hitam.
Lubang-lubang tersebut berukuran raksasa. Yang berada di pusat Bima Sakti, beratnya 4,3 juta kali Matahari. Galaksi tetangga, Andromeda, ditempati lubang hitam dengan massa setara dengan 100 juta Matahari. Galaksi-galaksi lain diduga berisi lubang hitam semiliar Matahari, dan beberapa bahkan memiliki monster sepuluh-miliar-Matahari. Lubang hitam tidak mengawali hidupnya dengan massa sebesar ini. Beratnya bertambah setelah makan, mirip manusia.
Dalam waktu satu generasi fisikawan saja, lubang hitam berubah dari bahan lelucon menjadi fakta yang diterima luas. Ternyata, lubang hitam ada di mana-mana. Jumlahnya di alam semesta ini mungkin mencapai triliunan.
belum pernah ada yang melihat lubang hitam, dan tak akan pernah ada. Tidak ada yang bisa dilihat. Hanya titik kosong di ruang angkasa—tidak ada apa-apa sama sekali, seperti yang senang dikatakan para fisikawan. Keberadaan lubang hitam disimpulkan dari efeknya pada sekelilingnya.
Seberapa yakin kita bahwa lubang hitam itu nyata, jawabannya selalu 99,9 persen yakin. Jika di pusat hampir semua galaksi tidak ada lubang hitam, pasti ada sesuatu yang lebih gila lagi. Tetapi, keraguan ini mungkin dapat dihapuskan sama sekali dalam beberapa bulan saja. Para astronom berencana memata-matai salah satu lubang hitam itu saat dia sedang makan.
Einstein tidaklah sendirian. Pada paruh pertama abad ke-20, sebagian besar fisikawan menepiskan kemungkinan adanya benda yang cukup padat untuk mencekik cahaya.
Namun, para ilmuwan sudah bertanya-tanya tentang kemungkinan tersebut bahkan sejak abad ke-18. Filsuf Inggris John Michell menyebutkan konsep itu dalam laporan kepada Royal Society of London pada 1783. Tidak ada yang menyebut benda aneh superpadat ini lubang hitam—benda ini disebut sebagai bintang beku, bintang gelap, bintang runtuh, atau singularitas Schwarzschild. Nama "lubang hitam" pertama kali digunakan pada 1967, dalam ceramah fisikawan Amerika John Wheeler di Columbia University di New York.
Pada kira-kira waktu yang sama, ada pergeseran radikal dalam pemikiran lubang hitam, terutama karena penciptaan cara-cara baru melihat ruang angkasa. Sejak awal masa, kita terbatasi pada spektrum cahaya tampak. Namun, pada 1960-an, teleskop sinar-x dan gelombang radio mulai digunakan secara luas. Dengan alat ini, astronom dapat mengumpulkan cahaya dalam panjang gelombang yang menembus debu antarbintang, dan melihat "tulang interior" galaksi.
Yang mengejutkan, hal yang ditemukan ilmuwan adalah bahwa di pusat hampir semua galaksi—dan ada lebih dari 100 miliar galaksi di alam semesta—terdapat kumpulan ramai bintang, gas, dan debu. Di pusat kumpulan semrawut ini, di hampir setiap galaksi yang dilihat, termasuk Bima Sakti kita sendiri, terdapat sebuah benda yang begitu berat dan begitu padat, dengan tarikan gravitasi yang amat ganas, sehingga bagaimana pun cara mengukurnya, hanya ada satu penjelasan yang mungkin: Benda itu lubang hitam.
Lubang-lubang tersebut berukuran raksasa. Yang berada di pusat Bima Sakti, beratnya 4,3 juta kali Matahari. Galaksi tetangga, Andromeda, ditempati lubang hitam dengan massa setara dengan 100 juta Matahari. Galaksi-galaksi lain diduga berisi lubang hitam semiliar Matahari, dan beberapa bahkan memiliki monster sepuluh-miliar-Matahari. Lubang hitam tidak mengawali hidupnya dengan massa sebesar ini. Beratnya bertambah setelah makan, mirip manusia.
Dalam waktu satu generasi fisikawan saja, lubang hitam berubah dari bahan lelucon menjadi fakta yang diterima luas. Ternyata, lubang hitam ada di mana-mana. Jumlahnya di alam semesta ini mungkin mencapai triliunan.
belum pernah ada yang melihat lubang hitam, dan tak akan pernah ada. Tidak ada yang bisa dilihat. Hanya titik kosong di ruang angkasa—tidak ada apa-apa sama sekali, seperti yang senang dikatakan para fisikawan. Keberadaan lubang hitam disimpulkan dari efeknya pada sekelilingnya.
Seberapa yakin kita bahwa lubang hitam itu nyata, jawabannya selalu 99,9 persen yakin. Jika di pusat hampir semua galaksi tidak ada lubang hitam, pasti ada sesuatu yang lebih gila lagi. Tetapi, keraguan ini mungkin dapat dihapuskan sama sekali dalam beberapa bulan saja. Para astronom berencana memata-matai salah satu lubang hitam itu saat dia sedang makan.
Lubang hitam di pusat Bima Sakti, yang berjarak 26.000 tahun cahaya dari Bumi, bernama Sagittarius A*. Sgr A*—itu singkatan standarnya; nama belakangnya dibaca A-bintang—saat ini merupakan lubang hitam yang tenang, makannya pilih-pilih. Galaksi-galaksi lain ditempati Godzilla pelahap planet, pengoyak bintang yang disebut quasar.
Tetapi, Sgr A* sedang bersiap-siap makan. Lubang hitam itu sedang menarik awan gas bernama G2 pada kecepatan sekitar 3.000 kilometer per detik. Hanya setahun lagi, G2 akan mendekati cakrawala-peristiwa lubang itu. Pada saat itu, teleskop radio di seluruh dunia akan berfokus pada Sgr A*, dan diharapkan bahwa dengan menyinkronkan semuanya untuk membentuk observatorium seplanet yang disebut Teleskop Cakrawala Peristiwa (Event Horizon Telescope), kita dapat menghasilkan gambar lubang hitam yang sedang beraksi. Yang akan terlihat bukan lubangnya sendiri, tetapi mungkin benda yang disebut 'piringan akresi', yaitu cincin puing di sekitar tepi lubang itu. Ini semestinya cukup untuk membuyarkan sebagian besar keraguan tentang keberadaan lubang hitam.
Lebih dari sekadar ada, lubang hitam mungkin malah turut membentuk susunan alam semesta. Materi yang melesat ke arah lubang hitam menimbulkan banyak panas akibat gesekan. Begitu pula benda yang meluncur ke arah lubang hitam. Lubang hitam juga berputar—mirip kolam pusaran yang dalam di ruang angkasa—dan kombinasi antara gesekan dan putaran ini menyebabkan banyak materi yang jatuh ke arah lubang hitam, kadang lebih dari 90 persen, akhirnya tidak menyeberangi cakrawala peristiwa, tetapi malah terlontar, seperti bunga api dari roda pengasah.
Materi panas ini membentuk semburan yang melesat di ruang angkasa, menjauhi lubang itu pada kecepatan luar biasa. Semburan ini menempuh jarak jutaan tahun cahaya, melintasi galaksi. Dengan kata lain, lubang hitam mengaduk bintang-bintang tua di pusat galaksi dan menyalurkan gas mendidih yang terbentuk dalam proses ini ke bagian luar galaksi. Gas itu mendingin, menggumpal, dan akhirnya membentuk bintang baru, menyegarkan galaksi bagaikan air mancur yang awet muda.
ada beberapa hal penting yang perlu ditegaskan tentang lubang hitam. Daya sedot lubang hitam tidaklah lebih besar daripada bintang biasa; tetapi lubang hitam memang memiliki cengkeraman luar biasa untuk ukurannya. Seandainya Matahari tiba-tiba menjadi lubang hitam—ini tidak akan terjadi, tetapi kita andaikan saja—massanya akan tetap sama, tetapi diameternya akan menyusut dari 1.392.000 kilometer menjadi kurang dari 6,5 kilometer. Bumi akan menjadi gelap dan dingin, tetapi orbit kita mengitari Matahari tidak akan berubah. "Matahari lubang hitam" ini akan memberi tarikan gravitasi yang sama pada planet kita dengan Matahari berukuran biasa.
Jadi, lubang hitam tidak pernah menyedot. Hal berikutnya, waktu, jauh lebih sulit dipahami. Waktu dan lubang hitam memiliki hubungan yang aneh. Sebenarnya waktu itu sendiri merupakan konsep yang tidak biasa. Anda mungkin tahu ungkapan "waktu itu relatif". Ini berarti waktu bergerak dengan kecepatan berbeda-beda bagi semua orang. Sebagaimana ditemukan Einstein, waktu dipengaruhi oleh gravitasi.
Jam pada satelit pemosisian global (GPS) harus disetel agar berdetak lebih lambat sedikit daripada jam di permukaan bumi. Kalau tidak disetel begitu, GPS tidak akan akurat.
Lubang hitam, dengan tarikan gravitasi yang luar biasa, pada dasarnya adalah mesin waktu. Naik roket, terbang ke Sgr A*. Dekati cakrawala peristiwa perlahan-lahan, tetapi jangan melintasinya. Untuk setiap menit yang dilewatkan di sana, seribu tahun berlalu di bumi.
Dan kalau kita menyeberangi cakrawala peristiwa, lalu apa? Orang yang menyaksikan dari luar tidak akan melihat kita masuk ke sana. Kita akan tampak membeku di tepi lubang. Beku selama waktu tak terhingga.
Tetapi, Sgr A* sedang bersiap-siap makan. Lubang hitam itu sedang menarik awan gas bernama G2 pada kecepatan sekitar 3.000 kilometer per detik. Hanya setahun lagi, G2 akan mendekati cakrawala-peristiwa lubang itu. Pada saat itu, teleskop radio di seluruh dunia akan berfokus pada Sgr A*, dan diharapkan bahwa dengan menyinkronkan semuanya untuk membentuk observatorium seplanet yang disebut Teleskop Cakrawala Peristiwa (Event Horizon Telescope), kita dapat menghasilkan gambar lubang hitam yang sedang beraksi. Yang akan terlihat bukan lubangnya sendiri, tetapi mungkin benda yang disebut 'piringan akresi', yaitu cincin puing di sekitar tepi lubang itu. Ini semestinya cukup untuk membuyarkan sebagian besar keraguan tentang keberadaan lubang hitam.
Lebih dari sekadar ada, lubang hitam mungkin malah turut membentuk susunan alam semesta. Materi yang melesat ke arah lubang hitam menimbulkan banyak panas akibat gesekan. Begitu pula benda yang meluncur ke arah lubang hitam. Lubang hitam juga berputar—mirip kolam pusaran yang dalam di ruang angkasa—dan kombinasi antara gesekan dan putaran ini menyebabkan banyak materi yang jatuh ke arah lubang hitam, kadang lebih dari 90 persen, akhirnya tidak menyeberangi cakrawala peristiwa, tetapi malah terlontar, seperti bunga api dari roda pengasah.
Materi panas ini membentuk semburan yang melesat di ruang angkasa, menjauhi lubang itu pada kecepatan luar biasa. Semburan ini menempuh jarak jutaan tahun cahaya, melintasi galaksi. Dengan kata lain, lubang hitam mengaduk bintang-bintang tua di pusat galaksi dan menyalurkan gas mendidih yang terbentuk dalam proses ini ke bagian luar galaksi. Gas itu mendingin, menggumpal, dan akhirnya membentuk bintang baru, menyegarkan galaksi bagaikan air mancur yang awet muda.
ada beberapa hal penting yang perlu ditegaskan tentang lubang hitam. Daya sedot lubang hitam tidaklah lebih besar daripada bintang biasa; tetapi lubang hitam memang memiliki cengkeraman luar biasa untuk ukurannya. Seandainya Matahari tiba-tiba menjadi lubang hitam—ini tidak akan terjadi, tetapi kita andaikan saja—massanya akan tetap sama, tetapi diameternya akan menyusut dari 1.392.000 kilometer menjadi kurang dari 6,5 kilometer. Bumi akan menjadi gelap dan dingin, tetapi orbit kita mengitari Matahari tidak akan berubah. "Matahari lubang hitam" ini akan memberi tarikan gravitasi yang sama pada planet kita dengan Matahari berukuran biasa.
Jadi, lubang hitam tidak pernah menyedot. Hal berikutnya, waktu, jauh lebih sulit dipahami. Waktu dan lubang hitam memiliki hubungan yang aneh. Sebenarnya waktu itu sendiri merupakan konsep yang tidak biasa. Anda mungkin tahu ungkapan "waktu itu relatif". Ini berarti waktu bergerak dengan kecepatan berbeda-beda bagi semua orang. Sebagaimana ditemukan Einstein, waktu dipengaruhi oleh gravitasi.
Jam pada satelit pemosisian global (GPS) harus disetel agar berdetak lebih lambat sedikit daripada jam di permukaan bumi. Kalau tidak disetel begitu, GPS tidak akan akurat.
Lubang hitam, dengan tarikan gravitasi yang luar biasa, pada dasarnya adalah mesin waktu. Naik roket, terbang ke Sgr A*. Dekati cakrawala peristiwa perlahan-lahan, tetapi jangan melintasinya. Untuk setiap menit yang dilewatkan di sana, seribu tahun berlalu di bumi.
Dan kalau kita menyeberangi cakrawala peristiwa, lalu apa? Orang yang menyaksikan dari luar tidak akan melihat kita masuk ke sana. Kita akan tampak membeku di tepi lubang. Beku selama waktu tak terhingga.
Tetapi, sebenarnya tidak tak terhingga. Tak ada yang abadi, lubang hitam pun tidak. Stephen Hawking, sang ilmuwan Inggris, membuktikan bahwa lubang hitam itu bocor—kebocoran itu disebut 'radiasi Hawking'—dan setelah cukup waktu berlalu, ia akan menguap seluruhnya.
sementara pengamat luar tidak akan melihat kita jatuh ke dalam lubang hitam, apa yang terjadi pada kita? Sgr A* begitu besar sehingga cakrawala peristiwanya terletak 13 juta kilometer dari pusatnya. Mungkin di sana ada tembok api, dan saat mencapai cakrawala peristiwa, kita langsung terbakar habis.
Namun, teori relativitas umum memperkirakan bahwa saat kita menyeberangi cakrawala peristiwa, akan terjadi hal lain: Tak terjadi apa-apa. Kita lewat saja, tanpa menyadari bahwa kita telah hilang bagi alam semesta. Sering dikatakan bahwa lubang hitam memiliki dalam tak terhingga, tetapi ini tidak benar. Dasarnya ada. Namun, kita sudah mati sebelum sempat melihatnya. Saat kita jatuh, gravitasi akan semakin kuat. Tarikan pada kaki, kalau kita jatuh dengan kaki di bawah, akan jauh lebih besar daripada tarikan pada kepala sehingga kita akan meregang sampai putus. Para fisikawan menyebut peristiwa ini "terspagetikan" atau "menjadi spageti".
Tetapi, keping-keping tubuh kita akan sampai ke dasar. Di pusat lubang hitam terdapat misteri yang disebut 'singularitas'. Jika singularitas kelak dapat dipahami, itu akan menjadi salah satu terobosan ilmiah terbesar dalam sejarah. Pertama, kita perlu menciptakan teori baru—yang melampaui relativitas umum Einstein, yang menentukan gerak bintang dan galaksi. Lalu kita perlu melampaui mekanika kuantum, yang memperkirakan apa yang terjadi pada partikel mikroskopis. Kedua teori ini bisa mewakili realitas, tetapi di tempat ekstrem, seperti di dalam lubang hitam, keduanya tidak berlaku.
Singularitas dibayangkan berukuran amat sangat kecil. Lebih dari kecil: Jika singularitas diperbesar satu triliun triliun kali, mikroskop terkuat di dunia tetap tidak bisa melihatnya. Tetapi, ada sesuatu di situ, setidaknya dari segi matematika. Sesuatu yang bukan hanya kecil, tetapi juga amat sangat berat. Tak usah repot berusaha memahaminya. Sebagian besar fisikawan berkata, ya, lubang hitam ada, tetapi bagaikan brankas sempurna. Mustahil dibobol. Kita tak akan pernah tahu isi singularitas.
Tetapi, segelintir pemikir non-ortodoks berpendapat lain. Beberapa tahun belakangan ini kalangan fisikawan teori semakin menerima pemikiran bahwa alam semesta kita bukanlah satu-satunya. Sebaliknya, kita tinggal di tempat yang disebut 'multiverse'—kumpulan alam semesta, masing-masing gelembung terpisah dalam bika ambon realitas. Ini sangat spekulatif, tetapi mungkin saja bahwa untuk melahirkan alam semesta baru, kita perlu mengambil materi dari alam semesta yang ada, memadatkannya, lalu menyekatnya.
Mirip dengan pembahasan di atas, ya? Lagi pula, kita sudah tahu apa yang terjadi pada setidaknya satu singularitas. Alam semesta kita dimulai, 13,8 miliar tahun yang lalu, dalam ledakan besar raksasa. Sesaat sebelumnya, segala sesuatu dimuat dalam titik yang sangat kecil dan sangat padat—sebuah singularitas. Mungkin multiverse itu ibarat pohon ek. Sesekali ada biji ek lepas, jatuh ke tanah ideal, dan tiba-tiba bertunas. Demikian pula singularitas, benih alam semesta baru. Dan seperti tunas ek, kita tidak pernah mengirim surat terima kasih kepada ibu kita.
Bukti tentang kemungkinan isi lubang hitam cukup meyakinkan. Coba lihat ke kiri, lihat ke kanan. Cubit diri sendiri. Lubang hitam mungkin berasal dari alam semesta lain. Tetapi, mungkin kita sedang tinggal di dalamnya.
sementara pengamat luar tidak akan melihat kita jatuh ke dalam lubang hitam, apa yang terjadi pada kita? Sgr A* begitu besar sehingga cakrawala peristiwanya terletak 13 juta kilometer dari pusatnya. Mungkin di sana ada tembok api, dan saat mencapai cakrawala peristiwa, kita langsung terbakar habis.
Namun, teori relativitas umum memperkirakan bahwa saat kita menyeberangi cakrawala peristiwa, akan terjadi hal lain: Tak terjadi apa-apa. Kita lewat saja, tanpa menyadari bahwa kita telah hilang bagi alam semesta. Sering dikatakan bahwa lubang hitam memiliki dalam tak terhingga, tetapi ini tidak benar. Dasarnya ada. Namun, kita sudah mati sebelum sempat melihatnya. Saat kita jatuh, gravitasi akan semakin kuat. Tarikan pada kaki, kalau kita jatuh dengan kaki di bawah, akan jauh lebih besar daripada tarikan pada kepala sehingga kita akan meregang sampai putus. Para fisikawan menyebut peristiwa ini "terspagetikan" atau "menjadi spageti".
Tetapi, keping-keping tubuh kita akan sampai ke dasar. Di pusat lubang hitam terdapat misteri yang disebut 'singularitas'. Jika singularitas kelak dapat dipahami, itu akan menjadi salah satu terobosan ilmiah terbesar dalam sejarah. Pertama, kita perlu menciptakan teori baru—yang melampaui relativitas umum Einstein, yang menentukan gerak bintang dan galaksi. Lalu kita perlu melampaui mekanika kuantum, yang memperkirakan apa yang terjadi pada partikel mikroskopis. Kedua teori ini bisa mewakili realitas, tetapi di tempat ekstrem, seperti di dalam lubang hitam, keduanya tidak berlaku.
Singularitas dibayangkan berukuran amat sangat kecil. Lebih dari kecil: Jika singularitas diperbesar satu triliun triliun kali, mikroskop terkuat di dunia tetap tidak bisa melihatnya. Tetapi, ada sesuatu di situ, setidaknya dari segi matematika. Sesuatu yang bukan hanya kecil, tetapi juga amat sangat berat. Tak usah repot berusaha memahaminya. Sebagian besar fisikawan berkata, ya, lubang hitam ada, tetapi bagaikan brankas sempurna. Mustahil dibobol. Kita tak akan pernah tahu isi singularitas.
Tetapi, segelintir pemikir non-ortodoks berpendapat lain. Beberapa tahun belakangan ini kalangan fisikawan teori semakin menerima pemikiran bahwa alam semesta kita bukanlah satu-satunya. Sebaliknya, kita tinggal di tempat yang disebut 'multiverse'—kumpulan alam semesta, masing-masing gelembung terpisah dalam bika ambon realitas. Ini sangat spekulatif, tetapi mungkin saja bahwa untuk melahirkan alam semesta baru, kita perlu mengambil materi dari alam semesta yang ada, memadatkannya, lalu menyekatnya.
Mirip dengan pembahasan di atas, ya? Lagi pula, kita sudah tahu apa yang terjadi pada setidaknya satu singularitas. Alam semesta kita dimulai, 13,8 miliar tahun yang lalu, dalam ledakan besar raksasa. Sesaat sebelumnya, segala sesuatu dimuat dalam titik yang sangat kecil dan sangat padat—sebuah singularitas. Mungkin multiverse itu ibarat pohon ek. Sesekali ada biji ek lepas, jatuh ke tanah ideal, dan tiba-tiba bertunas. Demikian pula singularitas, benih alam semesta baru. Dan seperti tunas ek, kita tidak pernah mengirim surat terima kasih kepada ibu kita.
Bukti tentang kemungkinan isi lubang hitam cukup meyakinkan. Coba lihat ke kiri, lihat ke kanan. Cubit diri sendiri. Lubang hitam mungkin berasal dari alam semesta lain. Tetapi, mungkin kita sedang tinggal di dalamnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)